Kenal dan Lupa
Ku teguk kopi hitam beraroma hikmat
Langit hitam tlah menjadi langit biru
Ku lihat pemandangan dari jendela kafe ini
Permata indah itu membiaskan cahaya indah
Ingin rasa aku mengenal siapa permata
Rasa hati telah mengetuk raga, ingin menghampiri permata
Namun tubuhku tetap terdiam dan kaku
Bibirku tak kuasa memanggil
Bahkan mataku tetap diam terpaku menatap permata
Nampaknya tubuhku tak ingin hati ini bahagia
Ku teguk kopi hitam untuk kedua kalinya
Kopi itu menyadarkan hati dan pikiranku
Jika aku mengenal, aku harus siap melupa
Kini aku sadar mengapa tubuhku tak sejalan dengan hati.




